Dengerin Khutbah Jum’at Sambil Merokok di Halaman Masjid, Lu Keren?

Dalam kehidupan mata kita selalu terjaga disetiap kegiatan sehari-hari, mata selalu merekam dan menangkap berbagai macam moment apapun itu. Reaksi alamiah pertama saya ketika mata ini menangkap moment menjengkelkan selalu menggerutu dalam hati “ngapain sih, lu keren kek gitu?”.

Alih-alih membicarakannya langsung dengan orang yang dimaksud, saya lebih nyaman untuk berbicara dalam hati dan berdialog dengan teman imajiner saya terkait moment yang membuat saya jengkel. Bukan apa-apa ya ngapain juga gitu, negur orang gak dikenal yang berbuat hal bodoh, membayangkannya saja sudah menguras energy, terlebih saya seorang sagitarius. Seperti halnya moment gerombolan jamet yang saya temukan ketika shalat jum’at.

Setelah saya membatalkan bertemu gebetan online, saya putuskan ke rumah teman untuk mengejar salat jum’at. Setelahnya sampai di rumah teman, saya kembali dijangkiti perasaan malas untuk jum’atan seperti jum’at sebelumnya. Tergoda ajakan teman untuk mabar Mobile Legend, saya putuskan untuk main satu game mode brawl sambil menunggu adzan kedua. Tapi, saya tetap mengiyakan panggilan Allah untuk jum’atan  

Seperti biasa, saya tidak mengharapkan unta ketika ingin salat jum’at, saya juga selalu datang ke masjid disaat injury time tepat saat adzan kedua berkumandang (adzan dua kali karena saya salat di masjid NU). Saya cukup sadar diri bahwa gejolak duniawi saya lebih mendominasi daripada ketaatan saya terhadap agama yang saya peluk. Sehingga tidak mungkin saya mendapakatkan shaf yang paling depan tepat di belakang imam.

Akhirnya saya mendapatkan tempat di halaman masjid, karena di dalam sudah penuh, ini sebagai konsekuensi saya, karena hadir disaat injury time. Segera saya hamparkan sajadah dan pasang kuping untuk mendengarkan khutbah. Dari banyak jamaah jum’at yang hadir mata saya terfokus pada gerombolan jamet yang baru datang dari arah kiri saya.

Dengan kompak gerombolan jamet ini memakai kombinasi streetwaer style lalu jari telunjuk dan jari tengahnya mengapit satu batang rokok dengan bara menyala. Melihat jamet yang memakai outfit elemen sporty-punk, saya seperti melihat pemuda labil yang ingin membeli kaos di acara Kickfest.

Celakanya gerombolan jamet ini duduk tepat disamping kiri saya, gerutu dalam hati saya mulai bermunculan menjadi kenyataan. Sembari menghisap rokoknya jamet itu menoleh ke arahku lalu tersenyum, shit! Khutbah juma’at yang saya dengar menjadi samar, fokus saya hilang karena gerombolan jamet.

Kejengkelan kecil itu terus-menerus menghantui saya selama khutbah berlangsung, hal yang menjengkelkan bisa bertemu dan berkumpul dengan hal yang menyenangkan. Kok menyenangkan? Aneh bukan? Ya, saya selalu senang dengan orang yang merokok karena saya juga perokok. Saya selalu jengkel dengan orang yang anti rokok.

Saya selalu berbicara sinis dengan kelompok anti rokok, saya selalu mengatakan “Tak perlu baper dengan tingkat konsumsi rokok di Indonesia yang sudah sedemikian tinggi. Perokok tak perlu risaukan survey-survey banal dari Badan Kesehatan Dunia, WHO, yang menyatakan bahwa Indonesia memiliki jumlah ‘baby smoker’ terbanyak di dunia. Tak perlu takut, merokok saja dengan damai, abaikan kebisingan aktivis antirokok di luar sana yang lebay-alay. Seperti kata Zely Ariane, kita tak perlu filosofi rokok untuk tetap merokok. Tak perlu narasi-narasi hebat. Merokok saja dengan syahdu.”

Kata-kata mujarab itu yang selalu saya kumandangkan kepada aktivis anti rokok, namun hal yang menjadi aneh adalah dengan melihat gelagat dari gerombolan jamet ini, saya menjadi auto kafir, jadi membenci perokok, bilkhusus merokok di tengah khutbah jum’at berlangsung.

Emang ga ada waktu lain di luar khutbah jum’at buat ngerokok? Kan masih bisa gitu beres jum’atan terus sebats. Kalo tidak mau menghormati khatib ya setidaknya hormati hari jum’atnya, kita kan santai tinggal duduk manis mendengarkan khutbah, dan biarkan khatib bekerja selama jum’atan.

Saya yakin hal ini bukan saja terjadi di masjid komplek teman saya, ini biasa terjadi di masjid kalian juga. Bagaimana pemuda yang baru dibebaskan merokok oleh orang tuanya atau pemuda yang sudah matang diusia sangat dewasa, bergaya petantang-petenteng berjalan masuk ke area shalat jum’at sembari menghisap rokok. Lu keren kek gitu?

Jika saja saya yang mempunyai pabrik rokok label warning pada kemasan rokok akan saya ubah. Bukan saja kemasan rokok yang sebelumnya secara resmi memiliki landasan yuridis kuat, dari “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin” menjadi teks yang lebih ramping, “Merokok Membunuhmu” beserta varian 5 gambar menyeramkan dan tambahan angka 18 +. Itu semua akan saya ubah dengan “Kalo khatib lagi khutbah jum’at para jamaah jangan ngerokok goblog! Ga ada keren-kerennya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *