Dilema di Malam Hari: Tidur atau Kencing

Pernah nggak sih lo kebelet pipis when lagi pewe tidur at the night. Pengalaman kek gitu tuh mesti dialamin semua people. Di saat posisi tidur udah dalam kesempurnaan kosmis, tetiba lo ngerasain aliran urine mengetuk kesadaran, wicis keadaan macam tu ga enak bangeddd kan.

Dalam dilema seperti itu, people biasanya kebingungan: ninggalin posisi tidur dan otw kamar mandi, atau biarkan urine menumpuk di kandung kemih sampai besok pagi.

Ada konsenkuensi logis kalo lo ngelakukain salah satunya. If you pergi ke kamar mandi dan membuang seluruh air seni, maka suasana kantuk yang you idam-idamkan bakal ilang seketika. Perlu konsentrasi penuh agar bisa mengantuk lagi di zaman yang semuanya serba internet ini. Ngantuk pada malam hari di zaman edun kek gini adalah sesuatu yang amat mehong.

Tapi if you membiarkan suasana malam dalam situation kebelet pipis, maka sepanjang kantuk akan dihantui dengan perasaan bersalah. Ada something yang mengganjal yang perlu dibereskan terlebih dahulu sebelum menggapai basah-dreaming.  

Masalah “tidur atau kencing” ini emang terdengar sederhana, namun jika lantas menyepelekannya akan jadi aib seluruh umat people in the world. Just imagine: ofkors, kita emang telah memecahkan misteri alam semesta; mengirim manusia ke ruang angkasa; membuat terowongan di bawah laut; dan menggerakkan 7 juta manusia ke Monas. Tapiiiiiiiii dari para filsuf, pemikir, cendekiawan, arsitektur, sampai ketua OSIS, sama sekali tak ada yang memikirkan solusi konkret dari problema akut ini.

Tuntutan agar segera ditemukan jalan keluar dari masalah ini semakin saya rasakan tadi malam. Di malam sebelumnya saya begadang full nolep. Setelah menunaikan kewajiban praying at Subuh time, perlahan angin sepoy menyibak rambut yang membawa kantuk. Suasana like that sangat aku butuhkan. This time to balas dendam bikos semalaman begadang.

Sialnya suasana penuh kedamaian itu tetiba hancur lebur when my urat syaraf merasakan akan adanya aliran air dalam kandung kemih. Kucoba melupakannya namun perlahan-lahan tumpukan air seni itu menggedor-gedor pintu kesadaranku. Aku kembali mencoba ignore, ya you know-lah, suasana mahal kek gini jangan coba dirusak dengan something yang sepele.

Aku tersenyum puas. I feel like menang melawan my kandung kemih sendiri. Sesaat kantuk mencapai titik kulminasi, tetiba dorongan air seni semakin kuat. Entah apa yang membuat mereka semakin berontak secara bar-bar. Hal tersebut lantas memaksaku untuk terbangun dari kantuk. Shit!

Okay, okay, finally aku menyerah. Kuangkat my bokong dari surga ranjang. Ya Rabb, beratnya minta ampun. Kupaksakan segala daya dan upaya agar lantas on the way kamar mandi. Aku duduk dengan kebingungan kenapa dilema ini mesti terjadi on my life.

When kududuk termenung memikirkan solusi praktis dari problem ini, kulihat botol aqua tergeletak menganggur tak berdaya. Kutatap botol itu dengan perasaan haru like nemuin oase di padang pasir. Dalam tatapan kosong itu kubayangkan botol yang jaraknya hanya 30 senti meter itu dijejali paralon pembuang air seni. Okay, kuputuskan untuk membuang seluruh limbah ini ke botol itu aja! Abis sebel!

Botol kubuka, moncong paralon kuhadapkan, bersiap mengambil ancang-ancang membuang seluruh kebingungan ini. Sejurus waktu kemudian entah kenapa aku terbayang pada sosok ibu yang memberikan botol itu dengan penuh cinta. Entah malaikat maut atau siapaaa, tetiba ada yang berbisik “Masakkkkkkkk sih botol pemberian ibu diari sesuatu yang kotor”. Akhirnya kulempar botol itu, kumasukkan kembali paralon ke dalam celanaku, dan aku kembali bingung.

Kemudian aku duduk dan menangis histeris. Kenapa Tuhan memberikan cobaan yang begitu berat. Aku stress bukan main. Keadaan ini lantas membuatku like crazy people. Aku terpapar depresi. Daripada terus-terusan begini kuputuskan untuk mengambil tali. Tali itu kuikatkan pada my leher dan bersiap melakukan percobaan bunuh diri.

Sambil menangis, aku menulis sebuah pesan singkat pada seluruh umat manusia dan berharap di masa depan akan ada seorang pahlawan yang menemukan solusi dari persoalan dilematis ini.

Saat pesan itu ditulis tetiba ada yang menggedor-gedor pintu kamarku. Dia adalah temanku. Dia melihatku lalu membuka tali itu dari leherku yang penuh dengan daki ini. Dia memelukku dengan erat sambil berkepo ria kenapa aku sampai harus melakukan percobaan suicide like that. Dia mengira aku depresi bikos putus cinta atau belum bayar setoran motor. Tapi kubantah bahwa aku bingung harus memilih tidur atau kencing.

Terus gimana coba respon friend ku itu? Dia langsung marah! Katanya kenapa sih soal begini aja mau bunuh diri. Kirain masalah bangsa yang emang berat atau masalah apaa gitu. Dia nggak setuju lhooo kalo dilema “tidur atau kencing” merupakan masalah yang besar.

Nah, kan? Persoalan ini emang jangan dilihat sebagai problem simple gitu! Ini persoalan serius karena bisa berdampak bukan cuman fisik tapi juga psikis. Setelah percobaan bunuh diri itu gagal, aku berangkat ke psikiater untuk berkonsultasi mana yang harus kudahulukan: tidur atau kencing hahaha. Namun jawaban psikiater malah membuat rumit persoalan ini.

Akhirnya aku mendatangi seorang ilmuwan Cambrigde University. Dan dia memberikanku semacam alat yang bisa menyelesaikan semuanya. Aku really really really happy dong.

Thanks guys sudah baca curhatan saya ini. semoga all of you tidak jadi gila just me aja. Sekarang aku udah nemuin solusi dari masalah ini, yaitu: pakai popok ukuran XXL. Hehehe senengnya bukan main ya bund.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *