Orang ini Saya yakin bukan Tercipta dari Tanah Liat

Semoga saja saya masih dalam keadaan memiliki wudhu saat menuliskan tentang ini. Tentang manusia yang secara horizontal maupun vertikal sangat menyebalkan dalam pengertian yang sesungguhnya.

Jika pembaca sekalian dalam keadaan hadas— besar atau kecil— lebih baik ambil wudhu terlebih dahulu, karena sebentar lagi anda akan membaca seorang manusia yang memiliki kadar kemaksuman tingkat rendah. Orang itu namanya Bujang (nama samaran, tentu saja).

Secara fisik Bujang memiliki perawakan yang cukup ideal jika dipantau dari jarak 10 km. Akan tetapi sifat dan wataknya sulit sekali dinalar sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut. Namun satu hal yang pasti dari remaja akhir yang lahir dari dataran sunda ini adalah memiliki kebiasaan yang cukup tidak menyenangkan bagi sebagian orang, yaitu: seringkali membuat orang lain kesal.

Suatu kebiasaan buruk yang selalu ingin membuat saya membakarnya hidup-hidup. Dan saya pikir melumpuhkan si Bujang takan mungkin merusak ekosistem dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Entah apa golongan darah yang dimiliki Bujang sehingga memiliki kebiasaan yang menurut 7 miliar manusia di dunia ini sangat tidak elok. Akan tetapi anehnya, meskipun ia kerap menjadi santapan hinaan, celaan, bahkan cibiran langsung di depan moncong jidatnya lantaran sering membuat orang lain kesal, Bujang tetap istiqamah dengan wajah datar-netral selayaknya tanpa dosa. Mungkin dia perlu dimasukan ke dalam list Ulul ‘Azmi.

Baca juga: Perokok Djarum Super yang Sering Kali di Kucilkan

Oleh karena itu saya sesekali meragukan Bujang tercipta dari tanah liat. Sesekali saya pun meragukan orisinalitasnya sebagai manusia turunan Adam. Sebab hampir setiap ekspresi yang ditunjukannya nyaris semuanya sama sedatar tembok Kraton.

Entah dalam keadaan sedih, bingung, bahagia, kecewa dan terluka, semuanya sama. Antara ekspresi yang satu dengan yang lainnya nyaris tidak ada bedanya. Sehingga hal inilah yang seringkali saya, sebagai teman karibnya, selalu salah menafsirkan wajah datarnya. Sungguh, saudara sekalian perlu tahu bahwa ekspresinya semacam manusia yang baru dibangkitkan oleh jurus terlarang Edo Tensei.

Karena tidak memiliki ekspresi sebagaimana manusia waras pada umumnya, saya kira si Bujang ini perlu didiangnosis sebagai penyandang cacat rasa dan perasaan stadium lanjut.

Artinya begini, ketika dalam dua dekade terakhir manusia mudah baper, Bujang malah tidak pernah baper sekalipun. Mau bagaimana pun kritikannya, mau sekeras apapun hujatan kepada dirinya, dia akan tetap datar yang entah sebagai wujud ekspresi kesal, lucu atau syukur tabah kepada Ilahi. Multitafsir. Tidak jelas.

Herbert Paul Grice, seorang filsuf bahasa, menyatakan bahwa bahasa memiliki makna karena ekspresinya. Karena itu, jika si Bujang tidak memiliki ekspresi, lantas makna apa yang bisa kita ambil?

Makanya saya seringkali berpikir bahwa jika ada pilihan untuk menjadi butiran debu, saya akan memilih opsi itu, daripada harus duduk bersama dengan seorang yang memiliki reputasi sebagai pembuat onar nomor wahid sekampus sekaligus pemilik ekspresi teraneh versi On The Spot macam si Bujang naudzubillah setan ini.

Pernah suatu ketika saya satu kelompok dalam suatu mata kuliah dengan pria yang digadang-gadang menjadi bupati Mongol Barat ini. Di hari yang mengerikan itu saya sempat menampar pipi kiri saya. Oh sakit, berarti bukan mimpi. Kemudian saya tampar pipi kanan, kok jadi nggak sakit. Oh, yang saya tampar pipi kanan si Bujang.

Berada dalam satu kelompok dengan si Bujang tentu bukan pilihan yang terbaik, akan tetapi sisi husnudzan-nya adalah dia merupakan mahasiswa yang rajin, ulet dan giat.

Sebaliknya, saya merupakan mahasiswa yang malasnya melebihi rajinnya setan dalam menggoda iman manusia. Jadi antara Bujang dan saya ada perbedaan ideologis yang menjurang, namun satu sama lain saling mengisi. Saya yang tidur, Bujang yang mengerjakan.

Bukan apa-apa saudara sekalian, Bujang memang kelewat rajin dan ulet, namun justru itulah yang menjadi petaka buat saya. Mengerjakan tugas yang tidak sesulit membangun candi, tentu saja merupakan perkerjaan yang mudah untuk dilakoni.

Namun karena tingkat ‘kemalasan’ saya melebihi apapun, akhirnya tugas yang mudah itu saya serahkan sepenuhnya kepada seseorang yang rajin dan ulet tapi ngawur, yaa hasilnya sudah bisa ditebak pasti tidak jelas.

Puncaknya adalah chaos antara dosen dengan kami, antara kami dengan mahasiswa. Sungguh peristiwa itu tidak mau saya ingat, pokoknya ingin hilang ingatan. Sejarah kelam. Dosen menghantam saya dengan kuat. Baru pertama kali dalam hidup, saya merasa jijik dengan diri sendiri. Ingin muntah paku rasanya.

Akan tetapi bagaimana dengan reaksi Bujang? Anda benar sudah bisa menjawab, reaksinya biasa saja. Meskipun saya adalah orang yang masih percaya bahwa akan tiba masa di mana semua orang merasa menyesal dengan apa yang sudah dilakukan, namun saat saya melihat reaksi Bujang terkait kritikan dosen itu, kepercayaan saya mulai goyah.

Tapi seburuk-buruknya hidup, harapan harus terus dipupuk. Harapan untuk melihat ekspresi liar dari Bujang harus tetap dipelihara. Dan bila itu terwujud, saya akan awetkan napak tilas Bujang lalu dimasukan ke dalam museum sebagai manusia paruh mutan: tanpa rasa, tanpa ekspresi.

Apabila suatu ketika saya dapat melihat ekspresi Bujang ketika kecewa, marah dan bahagia sebagaimana manusia pada umumnya, mungkin kadar viralnya akan sama dengan keajaiban matahari terbit dari barat. Dan barangkali itu sudah layak masuk ke dalam list tanda-tanda kiamat.

Saya tidak tahu bagaimana harus memungkasi tulisan ini. Pikiran saya melayang hanya mengambang tak tau arah jalan pulang, aku tanpamu butiran debu. Daripada itu saudara sekalian, sebelumnya izinkanlah saya meminjam penggalan Puthut EA, saya berpesan kepada kalian semua untuk: berhentilah menghujat Bujang. Dan mulailah menertawakannya.

Bujang naudzubillah setan ini.

Baca tulisan Ilham Ibrahim lainnya: Nonton Gol Pertama Messi Bersama Bapak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *