Per-Anuan Duniawi: Sisi Lain Tante Rani

Panggil saja aku Wikho Syadjuri –tentu bukan nama sebenarnya. Tapi, cerita ini bukan fiktif belaka.

Sore ini hujan mereda dengan sendirinya tepat pukul 16.30 Waktu Bagian Jogja. Matahari juga mulai menampakkan wujud dengan jati diri berbeda. Jika yang kita tahu bahwa matahari itu bersinar terang dan menyilaukan, tapi beda dengan sore ini. Ia berganti jubah bak ular berganti kulit. Atau tampil seperti lampu patromaks yang redup tapi tetap menghangatkan.

Aku tak tahu apa yang sedang dirasakan. Tapi sore ini terasa seperti lagu indie yang bercerita tentang Jogja, senja dan kopi.

Sambil menghisap sebatang rokok lodjie, aku termenung. Apa mungkin ini yang dikatakan dan diimajinasikan oleh mereka, bahwa bumi Pasundan diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum dan Yogyakarta tercipta ketika Tuhan sedang jatuh cinta. Mereka benar, mereka tidak salah, pikirku.

Karena saat ini aku sedang merasakan khayalan kaum imajiner tersebut. Niqmat Ya Bund!

Untuk mensyukuri nikmat sore ini, apalagi didukung dengan nuansa romantisme sedikit bau basah tanah, khayalan tingkat tinggi pun merobek diri yang hina ini. Andai aku punya pasangan, aku akan segera bergegas dan mengajak pasanganku berkeliling kota walaupun hanya dengan mengendarai Beat Turbo 110 CC.

Baca juga: Nikita Mirzani, Perempuan Gila yang Kita Butuhkan

Ingat! Cukup berkeliling kota ya, bukan mampir kosan lalu menutup pintu dan diskusi tentang peradaban.

Sialnya aku ini seorang pejuang jomblo fisabilillah. Yang bisa aku lakukan ya rutinitas seperti tuna asmara lainnya. Hanya duduk dan termenung dengan tenang serta penuh khidmat depan kos-kosan sembari menyeruput kopi dan menghisap rokok atau pergi ke warung kopi tepi sawah dengan teman yang satu nasib. Take a beer!

Di tengah asyiknya melihat kehidupan yang mulai muncul setelah redanya hujan, seperti lalu lalang kendaraan roda dua, anak-anak kecil berlarian dan bersepeda serta gerambolan mahasiswa menuju burjo, tiba-tiba muncul sebuah notifikasi WhatsApp dari seorang wanita, kira-kira berumur 32 tahun, mengirimkan pesan: “Sido rene ra mas? (Jadi kesini nggak mas?) Aku lagi kosong nih.”

Tak alang, dengan sigap tanpa basabasi, aku mulai mempersiapkan diri. Sarung terlepas berganti dengan celana levi’s yang baru kubeli di pasar Senthir sebulan lalu, serta kaos hitam kebanggaan dan sweater lusuh ala mahasiswa tingkat akhir.

Bersama motor Matic dengan pajak yang sudah lama mati dan STNK yang sudah raib entah kemana itu, aku terus melaju mengikuti irama hasrat yang terus bergelora menuju pasar yang bukan menjajakan makanan atau pakaian, melainkan menjajakan kenikmatan bagi kaum adam: Pasar Kembang atau Sarkem.

Adzan magrib berkumandang ketika aku sampai di gerbang Sarkem. Sebelum masuk aku harus membayar uang parkir motor 3.000 untuk hari biasa dan 5.000 untuk weekend. Kemudian aku berjalan masuk ke sebuah lorong kecil menuju pusat Sarkem, tapi  sebelum melewati lorong tersebut, haduhh.. lagi-lagi aku harus membayar uang retribusi sekitar 10.000. Banyak pungli juga nih pasar, pikirku. Hihi

Dengan penuh percaya diri aku melangkah maju mencari rumah wanita yang kupanggil Tante Rani. Berjalan di pasar ini sungguh melelahkan! Di setiap tikungan, belok kanan atau belok kiri, banyak yang menarik-narik lenganku seolah aku adalah artis papan atas yang sedang naik daun. Tapi aku menolak dengan halus, “Mboten mba, mboten buk.”

Aku sampai pada sebuah rumah yang didalamnya terdapat banyak kamar. Letak kamar Tante Rani bernomor 3 dari pintu depan. Lalu aku masuk seolah-olah itu rumahku tanpa salam dan tanpa etika. Dasar aku!

Di dalam kamar kecil berukuran 4×4 tersebut, aku duduk di atas kasur berseprai mawar. Wangi kamar tersebut sangat tidak asing bagi kaum adam yang sering berkunjung ketempat seperti ini. Bau bodylotion, parfum isi ulang, cermin yang sedikit pudar dan kipas angin berputar menyejukkan ruangan. Ah surga duniawi!

Imajinasiku semakin liar. Pikiranku tak terkendali.

Tapi semua sirna saat apa yang kulihat adalah kebalikan dari gelora hasrat yang menjadi-jadi. Justru yang kulihat adalah Tante Rani yang sedang sholat dan dilanjutkan dengan membaca beberapa ayat Al-qur’an, setelah kemudian ditutup dengan do’a penuh khidmat seolah-olah esok ia akan mati. Subhanallah! Aku dibuat tertegun olehnya!

“Kowe dik, melebu ae ora ngucap salam. Kowe ki mahasiswa opo ora? Jarene mahasiswa seko kampus islam, anak jaman now. Utake sih pinter tapi akhlake ra ono blas. Wes, kowe rono sholat disik. Bar kui baru enak-enak.” Ujar Tante Rani dengan wajah yang tenang dan penuh cahaya seperti dalam film-film menjemput hidayah.

Aku hanya terdiam dan merenung. ‘Adikku’ yang dari tadi berdiri membayangkan keaduhaian icik-icik ehem mendadak bijaksana di balik kolor yang bau, diam dan tenang. Tapi di tengah kebisuanku itu, Tante Rani kembali menyambarku sembari tertawa.

“Dik, Dik, emang orang kayak aku nggak boleh sholat? Ngaji? Lalu berdoa? Aku islam Dik. Emang sih aku nggak suci-suci amat. Tapi aku berdoa semoga kelak aku menemukan laki-laki yang mau mengajakku nikah, menafkahkan diriku, dan membimbing aku dengan islam. Dan aku akan kasih dia kejutan di ranjang, hehehehe. Nyoh kowe sholat sik, ojo ngelamun. Bar kui, ayok goyang-goyang.”

Perkataan itu menamparku. Aku jadi teringat dengan nasihat Gus Fadli Hidayat dari tanah Prabu Kian Santang dalam pengajiannya walaupun aku adalah santri satu-satunya.

Dawuh beliau:

Bahkan terhadap pelaku maksiat pun kita tak boleh menghakiminya seolah Tuhan tidak akan mengampuninya. Atau merendahkannya seolah dia pasti masuk neraka. Siapa tahu kelak dia bertobat dan diterima Allah. Sementara kita? Boleh jadi kesombongan kita malah menghapus amal kita.

Aku benar-benar takjub dengan sisi lain Tante Rani. Aku tak pernah bayangkan bagaimana senja dan magribku sebelumnya bakal berakhir. Yang kutahu malam itu aku bercinta dengan kekaguman sembari diringi alunan musik Kupinang Kau dengan Bismillah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *