Alice in Borderland atau Squid Game? Squid Game Cocok Untuk Orang yang Terlilit Pinjol

Akhir-akihir ini media social dipenuhi dengan diskusi drama Korea originalnya Netflix yang bertajuk Squid Game.  Hal yang menarik dari drama Korea ini adalah ide cerita yang diusung Squid Game berbeda dengan drama Korea lainnya, seperti khittahnya drama Korea selalu ada bumbu cinta-cintaan yang pemerannya glowing dan full make up, namun Squid Game tidak seperti itu.

Pastinya drama Korea ini benar-benar berbeda. Tak hanya mengusung kesan sadis, tapi Squid Game juga mampu mengajak penontonnya untuk ikut kedalam timeline permainan yang menegangkan tapi tak ketinggalan unsur drama yang ada.

Bermula tentang Seong Gi Hun (Lee Jung Jae) pria yang hidupnya sengsara dipecat dari pekerjaan, diceraikan istrinya, tidak mendapatkan hak asuh anak dan tinggal bersama ibunya tercintah, lengkap sudah bukan penderitannya?

Suatu hari Seong Gi Hun didatangi pria misterius yang mengajaknya ikut dalam sebuah permainan bertahan hidup rahasia untuk mendapatkan hadiah uang 45,6 miliar won kalo dirupiahkan jadi Rp 540.959.886.000,0 kamu itung sendiri, duit segitu bisa buat dp pulau di planet Mars.

Kehidupan serba sulit ditambah utang yang menumpuk dan selalu dikejar sama rentenir pun membuat Seong Gi Hun memutuskan mengikuti permainan tersebut. Namun keknya si sutradara lupa tidak memasukan adegan terror pinjol ke dalam riwayat utang-piutang Seong Gi Hun.

Kamu taulah di Indonesia banyak banget korban pinjol yang cukup parah, bahkan ada yang sampe bunuh diri karena terlilit pinjol. Bayangkan jika Squid Game ini terhelat di Indonesia, berapa manusia yang diselamatkan dari lilitan pinjol. Ya walaupun mati dalam permainan tapi si Frontman kan bakal transfer 100jt won ke pihak keluarga atau kerabat dekat.

Bahayanya pinjol ini tidak mengenal kalangan manapun, semua sama rata kau meminjam bayar sesuai tanggal yang dijatuhkan. Tidak sanggup bayar ya tanggung konsekuensinya dengan terror telpon, itu pinjol playstore, jika pinjol illegal? Yang ada akan disikat habis sampe gusi anda hamil.

Squid Game juga dengan cerdik memasukkan berbagai karakter dari berbagai lapisan masyarakat untuk membuktikan bahwa dalam hidup, semua manusia setara karena pasti sama-sama punya masalah, filosofi yang sama dengan para petinggi pinjol, eh tapi masyarakat yang mana? Ga mungkin kesetaraan itu terjadi di Uganda kan?

Perkembangan para karakter yang naik-turun dari permainan pertama hingga terakhir juga menjadi potret nyata bagaimana seorang manusia berada dalam lingkungan sosial. Bekerjasama, tolong-menolong, saling sikut, hingga membunuh menjadi jalan yang harus dipilih untuk bisa bertahan hidup.

Harus diakui pinjol menjadi solusi dana darurat, dana bertahan hidup semua umat, tapi setelahnya malah tambah ruwet. Satu-satunya solusi adalah adakan Squid Game di Indonesia, no debat.

  • Alice In Borderland atau Squid Game?

Namun namanya juga netizing tidak sah apa bila serial ini tidak dicompare dengan serial yang lainnya seperti Alice in Borderland. Memang kadang kamu harus mewajarkan perdebatan dalam ruang media sosial yang selalu membandingkan dan tentunya buang waktu, mengapa wajar karena dari dua serial yang lagi booming ini mempunyai kemiripan.

Baik Alice In Borderland maupun Squid Game sama-sama menceritakan tentang permainan sadis yang mempertaruhkan nyawa juga tokoh utama yang sama-sama pengangguran.

Tokoh utama dalam serial Alice in Borderland adalah Ryohei Arisu (Kento Yamazaki), pengangguran yang hidupnya tidak bahagia. Sementara itu, tokoh utama dalam drakor Squid Game ialah Seong Gi Hun (Lee Jung Jae), pengangguran karena dipecat dari pekerjaannya. Ia juga menjalani hidup yang sengsara dan miskin karena berjudi, kalaupun lagi menang judi malah apes ujung-ujungnya.

Sudahlah daripada menghabiskan waktu berdebat dan memilih serial mana yang terbaik, sungguh itu buang waktu karena tidak ada yang lebih baik dari trilogy The Tarix Jabrix no debat. Kembali ke Squid Game.

Buat kamu yang gak suka genre thriller ataupun gore kamu gak perlu khawatir karena Squid Game gak sesadis dan segore yang kamu kira, masih banyak serial atau film yang lebih gore. Tentu serial ini sarat dengan pesan sosial yang seusai dengan kehidupan nyata, juga banyak dialog yang menggelitik namun kena di hati.

Ada dialog yang saya suka ketika Cho Sang-Woo dan Seong Gi Hun berdebat lantaran Cho Sang-Woo membunuh Kang Sae-Nyeok, “kau selalu ingin masuk ke masalah orang tapi otakmu lamban” teriak Cho Sang-Woo kepada Seong Gi Hun. Perkataan singkat itu kayaknya sih cocok buat orang-orang yang selalu ingin masuk ke masalah orang lain tapi belum tau solusi untuk memecahkan masalah itu, kek gimana yah, kesannya sih kek lebih ke kepo gitu loh.

Ini sebenarnya saya nulis apaan sih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *