Benarkah Scroll Tik Tok Menghilangkan Overthinking Tengah Malam?

Belakangan, saya punya hobi baru: menonton video TikTok. Tak terhitung kuota internet yang sudah saya habiskan untuk menonton setiap video Tik Tok, entah di sela-sela jam kerja, atau yang paling sering saat terbangun di sepertiga malam.

Alasan awal saya menonton Tik Tok simpel saja: ingin membuat saya lupa banyak hal menyebalkan. Beberapa malam terakhir saat terbangun saya bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam di Tik Tok. Kekuatan programmability yang dimiliki Tik Tok benar-benar bikin saya betah berlama-lama di aplikasi itu.

Durasi video Tik Tok yang singkat sebenarnya jebakan batman karena secara tak sadar kita telah menghabiskan sisa hidup yang diberikan Tuhan. Banyak video Tik Tok yang membuat saya berdecak kagum sekaligus bikin jantung berdetak.

Bukan, bukan soal goyang pinggul atau pamer buah dada, algoritma saya diselingi dengan berbagai video lucu, juga cuplikan Naruto dan One Piece, dan kebanyakan ihwal masa lalu, terutama masa-masa sekolah dan dunia santri-pesantren lainnya, kemudian perenungan soal masa depan dan lain sebagainya.

 Niat awal ingin mencari hiburan, lambat laun malah sebaliknya! Di antara video yang saya tonton itu, kebanyakan membawa pada vibes yang bikin perasaan jadi gak normal. Jadi gak normal! Kayak langsung terbawa suasana tentang pulang ke rumah setelah lama merantau, tentang hari terakhir di sekolah/pesantren, waktu sore di hari raya lebaran, ketika ibu bilang “di luar hujan, sekolahnya besok lagi aja”, dan merenung tengah malam kenapa harus dipertemukan kalau nantinya tidak disatukan.

Niat awal tadi ingin melupakan hal yang menyebalkan tapi overthinking ini malah semakin menjadi, tainya bayangan macam personality, time of day, day of the week, weather, social activities, stress, sleep, exercise, age dan sex semakin menggila.

Sebuah hasil studi oleh Universitas Michigan, menemukan bahwa 73 persen golongan usia 25 hingga 35 tahun sering memikirkan suatu hal secara berlebihan, begitu pula dengan 52 persen dari golongan usia 45 hinga 55 tahun yang mengalami overthinking, dan saya ada di fase 25 dimana overthinking menjadi konsumsi yang tak pernah terlewatkan di tengah malam.  

Algoritma TikTok memang sedikit membingungkan karena pada timeline, Anda tidak hanya bisa melihat video kreatif dari orang yang kamu follow, mungkin sepertinya jika algoritma timeline Tik Tok saya dipenuhi cewek goodlooking berjoget dengan liukan belly dance saya yakin oveethinking tengah malah bakalan lenyap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *