Dua Halaman Ajaib Pada Novel Sastra Aliran Baru

Dalam pengalaman membaca suatu tulisan, terkadang ada paragraf yang bisa kamu rasakan secara deep feel jika kamu memahami betul atau setidaknya kamu pernah merasakan hal yang sama pada apa yang tertulis di paragraf itu.

Ini bukan cocoklogi ya guys. Lebih parah dari itu, hanya gegara suatu tulisan kamu bisa jatuh hati pada penulisnya. Mendadak jadi penggemar beratnya. Berharap bisa bertemu dengannya, senang menyimaknya berbicara, atau bahkan ingin foto bareng dan minta tanda tangan. Bahkan ekstrimnya lagi, minta dimahar Avanza silver.

Tulisan memang candu. Bisa menyihir para pembacanya untuk sangat menyukai tulisan itu, membacanya berulang-ulang, menceritakannya pada orang lain, dan merekomendasikan orang lain untuk membacanya juga. Inilah MLM positif yang sesungguhnya, yakni Multi Level Membaca (MLM).

 “Kau memilih bergeming, entah karena tak tahu harus berbuat apa, atau karena kau terlampau terpesona dengan pemandangan yang terhampar di depanmu. Tak mendapat jawaban darimu, perempuan itu menggurat senyum yang benar-benar tak bisa kau tangkap artinya. Tanpa bersuara, hanya nafas yang menderu, perempuan itu mulai mendekatimu perlahan. Tubuhmu bagai tanah yang sedang dilalui ular, melata perlahan, hingga setiap detail tubuhnya mampu kau rasakan, sebuah sensasi yang begitu kau nikmati”  Sang Keris, halaman 17-18.

Halaman 17-18 di novel Sang Keris itu salah satu part yang bikin pembaca bisa merasakan deep feel. Jika kamu pernah membaca novel Sang Keris juga, kamu bisa lebih relate dan sehati sama apa yang aku jelaskan selanjutnya.

Bagi yang belum pernah membacanya, sebaiknya kamu segera mencarinya ke toko buku sekarang juga atau pinjam sama temen kamu yang punya dan segera baca dari bagian pertama novel itu.

Saat kamu mulai membacanya, aku yakin kamu bisa menyelesaikan membaca novel itu hanya sekali duduk sembari meneguk segelas kopi tubruk. Novel itu relatif tipis, hanya 110 halaman. Meski begitu, isinya akan melahirkan penafsiran imajinatif dan pengalaman membaca yang tak pernah kau rasakan pada novel lain.

Novel Sang Keris ini memang berbeda dari sekian banyak novel sastra yang pernah ada. Novel ini dianggap tiap chapternya non linear, tidak kronologis, berbeda plot, dan berganti point of view di setiap chapternya tapi semuanya tentang keris.

Novel ini dianggap sebagai aliran baru dalam penulisan sastra. Inget ya setiap aliran baru bukan berarti sesat lho, yang tersesat itu air yang tidak mengalir karena terhalang oleh sampah manusia.

Sastra merupakan dunia kemungkinan. Seperti mungkinnya aku bisa jadi kekasihnya Mas Aldebaran.Ketika pembaca berhadapan dengan karya sastra, maka ia akan berhadapan dengan kemungkinan penafsiran.

Ini selaras dengan pendapatnya Lucien Goldman mengenai karya sastra. Menurutnya, karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner. Sehingga untuk mengekspresikan pandangan dunia itu, pengarang menciptakan semesta, tokoh-tokoh, objek-objek dan relasi-relasi secara imajiner juga.

Sesuai judulnya, novel Sang Keris ini menceritakan tentang keris, bukan tentang kamu yang tak kunjung memberi kepastian, hmm. Keris dalam lintasan sejarah. Dimulai dari kelahiran mistik keris dalam kosmologi jawa, melintasi ke masa kerajaan jawa kuno, kemudian pada era kerajaan maja pahit, masuknya islam, masa kemerdekaan, hingga zaman modern.

Beberapa review lain yang mengatakan bahwa cukup sulit memahami cerita dalam novel Sang Keris jika dibaca oleh pembaca awam yang kurang membaca mengenai sejarah sebelumnya. I agree with that. why?, because Pada setiap chapternya yang berbeda-beda, pembaca bisa melahirkan penafsiran kemungkinan dengan menerka-nerka, chapter itu seperti menceritakan sejarah yang sebelumnya pernah diketahui atau sejarah yag pada umumnya diceritakan, namun di novel Sang Keris kisah itu dituliskan ulang dengan cara yang berbeda. Unik dan menarik!

Novel Sang Keris ini salah satu karya yang ajaib. Penulis menceritakan bahwa novel ini ditulis hanya dalam waktu 25 hari. Waw, 25 hari kita bisa apa ya? Hebatnya lagi novel ini bisa menang juara kedua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2019 lho. How great! Ahmad Tohari bahkan bilang novel ini masuk pada kelompok novel unggulan di Indonesia.

Biar kalian gak makin penasaran, aku sebutin deh ya nama penulisnya. Beliau adalah Panji Sukma Her Asih.  Mas Panji bilang, novel ini awalnya berlatar kerajaan karena memang mas Panji menyukai sejarah.

Dalam hal ini tujuanku tentang ketidak setujuan pada sejarah, aku membuat opsi lain agar pembaca melahirkan sesuatu yang kritis. Ga terlalu banyak pemuda yang kritis menulis novel sejarah. Aku seneng sejarah, baiknya kita tau sanad kita. Aku lumayan hafal urutan-urutan kerajaan, jadi aku menghadirkan era kerajaan itu.”

Nah, jadi karena novel ini menceritakan keris, mas Panji Sukma adalah orang yang secara pribadi mengetahui banyak hal tentang keris. Secara ayahnya adalah maestro di bidang keris dan pakuwon jawa di indonesia, nama ayahnya adalah Mpu Totok Brojodiningrat. Mas Panji dari kecil dibesarkan di sanggar dan belajar perwayangan. Lelaki idaman banget. Inspiratif, Cerdas, dan paham sejarah. Huhu I adore him so much.

Kata mas Panji Sukma :

Aku sangat belajar dari wayang, dan aku ga segan bertanya sama teman-teman yang lebih paham. Sang Keris itu cuma jadi pemikat semua cerita dari semua jaman, kalo keris yang aku pahami kisahnya bukan atau tidak akan seperti ini. Biar kalo bahas novel tentang keris ingetnya aku, tapi aku gatau itu apa corak baru dalam sastra yang ceritanya tidak linear setiap bab”. 

Jadi dalam novel Sang Keris ini memang di dominasi oleh ideologi subjektif-kolektif mas Panji Sukma tentang keris. Mas Panji berhasil mengolah sejarah keris menjadi fiksi. Novel ini tidak sekedar imajinasi, tapi juga tentang prediksi masa depan. I highly highly higly recomend this books to you guys. Kalian akan tersihir untuk membaca karya lainnya yang ditulis mas Panji Sukma deh kalo kalian udah baca halaman 17-18. Cepetan mulai baca novelnya sekarang, keburu kiamat!

Oh iya, agar kalian makin jatuh hati pada tulisan dan penulisnya, coba kalian search instagramnya mas Panji Sukma, nama IG nya @buruhseni, atau bisa juga follow twitternya @buruhseni. Hati-hati kaget lihat fotonya, ganteng soalnya (wkwk).

Terakhir, ada salah satu kata mas Panji Sukma yang aku suka dan pasti relate bagi para pembaca bangor.in adalah “Nakal boleh, bodoh jangan!”. “Jangan cuma sok-soan tapi juga harus berprestasi” . So, kita harus selalu isi nutrisi otak kita salah satunya baca terus artikel bangor.in yaaa bosque.

One thought on “Dua Halaman Ajaib Pada Novel Sastra Aliran Baru

  • 27 Desember 2020 pada 10:26
    Permalink

    Minjem atuh beuu kadieu bukunaa

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *