Memahami Tesis Angela White “The Porn Performer: The Radical Potential of Pleasure in Pornography”

Saya tidak percaya pembaca bangor.in tidak pernah menonton bok*p seumur hidupnya,  saya juga tidak percaya pembaca bangor.in tidak mengetahui sosok Angela White, ya jika tidak tahu dan kamu sesuci itu minimal tahu wajahnya, jika masih tidak tahu juga saya spill dulu Twitternya: @ANGELAWHITE

Untuk pecinta bok*p mungkin sudah tidak asing lagi dengan nama Angela White bintang bok*p asal Australia yang mencetak sejarah sebagai satu-satunya bintang porno perempuan yang sukses menyabet piala Adult Video News (AVN), ajang penghargaan prestisius di industri pornografi, selama tiga tahun berturut-turut.

Adult Video News (AVN) ini ibaratkan Academy Award atau Piala Oscar dalam lingkup perbok*pan, dengan etos kerja yang baik juga totalitasnya dalam perannya sebagai bintang bok*p saya rasa beliau layak mendapatkannya.

Entah ini sebuah prestasi atau tidak, Angela White yang sudah menekuni profesi harom ini selama 19 tahun pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPRD di kampung halamannya. Tidak hanya itu walaupun beliau menekuni profesi sebagai bintang bok*p yang cukup tabu di Indonesia, beliau tidak lupa dengan akademis, Angela sedang mempertimbangkan ambil gelar Ph.D alias lanjut S3.

Menalaah Tesis Angela White “The Porn Performer: The Radical Potential of Pleasure in Pornography”

Artis bok*p pada dasarnya memang menawarkan pengalaman dan tubuh mereka dalam pekerjaan seks yang nantinya menghasilkan karya melalui video, berbeda dengan pekerja seks lapangan selepas crot langsung balik kanan dan menunggu orderan selanjutnya.

Tentu dalam pembuatan video bok*p beberapa dari pemerannya mengalami ketikdaknyamanan dan kurangnya kepercayaan diri. Para artis bok*p menggambarkan transformasi hubungan dan lekuk tubuh mereka selama syuting dengan pemeran bok*p lainnya atau bisa saja dengan penggemar. Karya mereka sesama rekan kerja dan bisa juga dengan penggemar muncul sebagai lokus pengembangan apresiasi yang lebih besar untuk area yang pernah selama ini coba mereka sembunyikan.

Namun dalam wawancaraya Angela mengakui bahwa ada moment dimana ketidaknyamanan itu menjadi sebuah kewajaran, profesionalitas, penghargaan dan kenikmatan yang belum pernah beliau dapatkan di tempat kerja apapun.

Sedikit contoh yang pernah Angela alami adalah bagaimana seorang wanita insecure dengan adanya stretch mark saya biasa menyebutnya singkayo, itu bisa mengganggu jika berpose saat pemotretan mengenakan bikini. Namun pengalaman Angela saat pemotretan majalah dewasa, perusahaan itu menyebut bahwa stretch mark adalah tanda kecantikan. Beliau mengakui bahwa ada rasa validasi dalam melihat dirinya seperti itu.

Bagaimana majalah dewasa itu membantu Angela untuk menambah kepercayaan dirinya dan menghargai lekuk tubuhnya dengan cara yang tidak bisa beliau lakukan sebelumnya

Tidak hanya pria dan wanita yang membayar untuk melihatnya, tetapi ada perusahaan yang membayar uang untuk lekuk tubuhnya. Melihat dirinya diterbitkan di majalah yang dijual khusus untuk gairah seksual meningkatkan kepercayaan diri beliau.

Alih-alih merasa menjadi korban dan terpotong oleh pengalaman mereka sebagai pemain, para artis bok*p merasakan dan menggambarkan rasa berkembang dalam permasalahan seksualitas.

Apa pun yang membuat ia merasa tidak aman, kemungkinan besar itu hanyalah overthinking terbesar yang ada di benaknya. Memanfaatkan hal-hal yang dulu beliau benci tentang dirinya telah memberi begitu banyak rasa hormat dan penghargaan untuk tubuhnya dan menunjukkan kekuatan yang sebelumnya ia tidak sadari.

Dengan ini orang dapat menunjukkan cara Angela menyoroti peran pasar dalam harga diri dan kepercayaan dirinya.

Menurutnya jauh lebih bijaksana jika para artis bok*p  suportif, dan produktif. Jika para artis bok*p ini telah menemukan cara untuk sepenuhnya menjadi diri mereka sendiri dan mencintai pekerjaannya dalam dunia perbok*pan maka kita tidak boleh mencemoohnya namun harus memperhatikannya.

Dalam industri perbok*pan Angela tidak melihat perempuan dilecekan atau diberdayakan, ia melihat bagaimana para artis bok*p mengalami perkembangan seksualitas yang signifikan.

Jika para wanita ini telah menemukan cara untuk sepenuhnya menjadi diri mereka sendiri dan mencintai diri mereka sendiri melalui pekerjaan mereka di bidang pornografi, kita tidak perlu meragukannya, kita harus memperhatikannya.

Sebagian besar pekerja seks di lingkungannya adalah orang yang mempunyai gelar akademis namun mereka tidak pernah bersuara. Angela memilih untuk bersuara dan berkontribusi pada pengetahuan akademis tentang subjek tersebut meskipun beliau menekuni syuting bok*p.

Pandangan Angela White via VICE terhadap Tesisnya

Menukil wawancara Angela Wahite dengan VICE, pandangan beliau terhadap industri bok*p cukup menarik setelah menulis tesis tersebut.

“Saat mengerjakan tesis, saya melakukan penelitian kualitatif untuk mencari tahu seperti apa pengalaman perempuan di industri pornografi Australia. Temuannya sangat menarik. Narasi victimization (yang menjadikan seseorang sebagai korban) telah membentuk pola pikir bintang porno, hingga akhirnya mereka percaya pantas mengalami hal tertentu karena mereka menekuni profesi ini atas pilihan mereka sendiri.” Tutur Angela dalam wawancara oleh VICE.

“Menariknya, setiap kali mereka hendak menceritakan kehidupannya sebagai pemain film dewasa, mereka pasti langsung membenarkan keberadaan mereka dan menggunakan narasi tersebut. Itu hal pertama yang mereka lakukan sebelum menceritakan pengalaman lain.” Lanjut Angela.

 “Bahkan tanpa ditanya perasaannya pun, mereka akan ngomong seperti, ‘Saya memilih jalan ini, jadi saya bukan korban’ ketika diwawancarai oleh saya.” Tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *