Pencipta Toilet Layak Disejajarkan dengan Friedrich Nietzsche

Kepada Anda yang telah menciptakan toilet pertama di semesta, saya yang bukan siapa-siapa ini mendoakan agar baktimu untuk manusia dapat berbuah surga. Maafkan kami bila tidak mengenal namamu, tapi santai saja, Tuhan itu Maha Tahu, doa kami untukmu, takan mungkin meleset ke penemu gunting cukur.

Sulitnya mencari penemu toilet saya kira dipicu oleh penemunya sendiri yang kurang pede dengan mahakaryanya. Ia lebih baik tenggelam oleh sejarah, dilupakan oleh umat manusia, daripada dikenang sebagai Bapak Toilet Dunia.

Akan tetapi bila ada orang yang kurang kerjaan untuk mencari penemu toilet pertama dunia, maka saya kira akan dengan sangat ikhlas sabun Lifeboy mau jadi sponsor utamanya. Bila usaha ini berbuah manis, saya akan buatkan patung setinggi Patung Liberty agar manusia-manusia tidak tahu diri itu sadar bahwa betapa toilet adalah temuan yang paling penting di dunia.

Karena itulah, saya dedikasikan artikel ini sepenuhnya kepada para maestro yang telah berjuang dalam menciptakan, mengembangkan dan menyempurnakan jagat pertoiletan internasional. Pengabdian mereka terhadap umat manusia patut kita apresiasi sebagai bentuk terimakasih yang tak terhingga terhadap mahakarya yang nilai manfaatnya tiada memiliki banding.

Penemuan mereka tentang toilet begitu mempesona, tapi sayangnya sebagian umat manusia memaknai toilet dengan agak miring. Saya sedikit menyesalkan kenapa penemu sekaligus pencipta toilet pertama tidak dimasukan ke dalam buku 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia karya Michael Hart.

Padahal kalau kita mau jujur-jujuran, orang-orang berpengaruh di dunia yang ditulis dalam buku itu, saya yakin 84%, mendapatkan inspirasinya di toilet. Entah itu ketika mandi, cuci tangan atau, mohon maaf, boker.

Selain itu, mengapa pula Michael Hart memasukan Johann Gutenberg yang seorang pengembang mesin cetak, sementara penemu toilet tidak dimasukan dalam deretan orang-orang berpengaruh di dunia. Ini jelas tidak adil.

Lebih baik tokoh yang bernama Mani, seorang pendiri agama Manikheisme, digantikan oleh penemu toilet, karena bagaimana pun kalau penilaiannya adalah tentang kadar pengaruh, jelaslah lebih besar penemu toilet daripada pengikut agama Manikheisme.

Andaikan Michael Hart lebih teliti lagi dalam menyusun buku itu, maka bukan hal mustahil penemu toilet akan mendapatkan tempat yang layak bersama orang-orang hebat dunia. Begitulah, selama ini orang-orang aneh yang tidak banyak manfaatnya untuk kemanusiaan terlalu didewakan. Kalau ditakar nilai manfaatnya hanya secuil kuku dibanding nilai mudlaratnya.

Karl Marx, misalnya, mengapa pula kita membingkai namanya dengan sejuta frasa “pemikir terbaik” padahal buah dari pemikirannya tentang komunisme adalah jutaan mayat manusia tak berdosa dibunuh. Silakan Anda buka buku The Black Book of Communism bila saya bohong.

Lebih dari itu pemikir gila asal Jerman yang bernama Friedrich Nietzsche selalu dipuja dengan berlebihan hanya karena ungkapannya tentang Tuhan telah Mati. Padahal jika kita jeli siapa yang lebih kritis antara Nietzsche dengan penemu toilet, jelas Anda tahu jawabannya.

Tujuan saya menulis artikel ini tidak lain hanya mengajak kepada seluruh alam untuk tidak melupakan jasa-jasa yang telah diberikan oleh penemu toilet. Sudahlah cukup, kita terlalu jauh membicarakan angan-angan Gramcsi, Hegel, atau John Locke yang terlampau utopis untuk diterapkan.

Mereka pencipta spekulatif yang bahkan takan mampu membuat segelas Wine, apalagi sebuah toilet. Jika penemu toilet pertama terlampau sulit ditelaah, kenapa pula UNESCO tidak mengumpulkan para arkeolog dunia untuk mencari toilet pertama di muka bumi. Itu lebih baik.

Masak menemukan fosil pithecanthropus erectus yang dipercayai sebagai mata rantai yang hilang antara manusia kera dengan manusia modern dapat mudah ditemukan, sementara toilet pertama nggak bisa.

Saya kira apabila pihak UNESCO berniat untuk mencari dan menemukan toilet pertama di muka bumi, dugaan saya, peradaban Atlantis yang misterius itu akan terjawab. Karena bagaimana pun jijiknya sebuah toilet, ia tetap saja berperan sebagai medium inspirasi yang dapat melahirkan peradaban besar.

Saya begitu yakin bahwa peradaban berawal dari sebuah inspirasi, dan inspirasi selalu datang secara tiba-tiba dari toilet. Andaikan toilet pertama di muka bumi ternyata dari Indonesia, marilah kita angkat tempat itu sebagai destinasi wisata andalan di samping Borobudur dan Pulau Komodo.

Setelah itu kita dorong pihak UNESCO untuk segera mengesahkannya sebagai Warisan Dunia bersama Batik yang patut dilestarikan dan dijaga dengan baik. Ingat, jangat sampai terlambat nanti Negara tetangga mengklaim!

Mungkin Anda menilai saya kurang kerjaan membahas problem toilet kontemporer, memang betul. Tapi kawan, saya ingin sekali isu sentral dan pembicaraan mainstream tidak lagi ada di pusaran kampret, cebong, Ahok, Prabowo, Jokowi atau pembahasan-pembahasan politik tai kucing lainnya.

Coba arahkan sedikit pembahasan mengenai toilet agar anak-anak bisa menafakuri betapa toilet adalah mahakarya paling epik yang pernah dibuat umat manusia. Saya bilang mahakarya paling epik karena toilet itu ternyata multisolutif yang pengunaannya tidak hanya sebatas mandi-kencing-boker tapi lebih dari itu.

Bagi jiwa-jiwa penghamba cinta macam Majnun, toilet bisa dijadikan sebagai tempat bersandar yang baik ketika pundak pacar direbut teman sendiri. Bagi yang sedang stress memikirkan judul skripsi, toilet kerap menawarkan judul yang tidak kalah “cum laude”-nya dengan café.

Sementara bagi yang ingin shalatnya diterima oleh Allah SWT, toilet menawarkan mandi junub setelah semalaman beratraksi liarrr. Tapi bagi diri saya pribadi, toilet adalah bukti betapa seringnya aku memikirkanmu. Demi apapun saya bersaksi, saya takan mungkin dapat membuat artikel ini tanpa kehadiran toilet. Terimakasih, toilet. Anda sekali lagi menyelamat hidup saya dari maut yang bernama deadline.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *