Ultimate Skeptic: Manusia Kurang Iman Galau Karena Cinta, Imam Al-Ghazali Galau Karena Mencari Kebenaran

Ada sebuah Firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 185 yang dengan tegas menyatakan “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” Pria atau wanita, pecandu kopi atau ganja, penyantap kacang atau blerang, semuanya akan mati.

Setiap jiwa memang akan mati, pun demikan dengan galau. Ini harga mati bagi siapa saja yang bernyawa terlepas dari jabatan atau status sosial dan usia, tak ada pengkotakan di dalam diskursus galau  ini. Mencari arti kata galau yang sesungguhnya adalah kegalauan tersendiri. Ada yang menyebutnya sebagai sikap kegamangan rasa karena ketidakjelasan. Ada pula yang mendefinisikan galau sebagai situasi yang kurang nyaman, sedih, gelisah, menyesal dan bingung.

Tapi menurut saya, definisi paling tepat untuk galau adalah romantisme fatamorgana yang tak kunjung bermuara. Cara mengekspresikan kegalauan pun cukup variatif dan cenderung menjijikan, dari sekadar curahan hati di linimasa hingga tulisan sok puitis berbentuk prosa yang menjurus lebay-alay-cuiih.

Meskipun demikian faktanya, galau adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak oleh klenik atau disantet oleh tabib. Karena galau adalah ekspresi universal kemanusiaan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun, termasuk oleh Fadly asal Kuningan, sahabat karib saya di Pesantren itu.

Sebagai makhluk yang bernyawa sudah barang tentu Fadly pernah merasakan paradigma galau. Jika anda pernah membaca novel Layla Majnun karya Syekh Nizami Ganjavi, maka anda bisa membayangkan kisah kegalauan Fadly dalam mengejar cintanya, hal ini seakan kilas balik pejuangan cinta yang masyhur antara Qays putra tunggal Syed Omri yang dibuat galau tak terperdaya oleh Layla sang gadis desa.

Namun perbedaan keduanya cukup mencolok sebab kegalauan Fadly oleh wanita tidak sampai pada tingkat gila seperti Qays yang menyandang julukan si Majnun (stress). Fadly menderita kegalauan karena salah kaprah dalam memaknai definisi cinta.

Bagi Fadly, cinta adalah suatu entitas yang tersembunyi dalam enigma, terkungkung dalam emosi dan diekspresikan dengan sikap diam. Karena alasan ini, Ia begitu sulit mengungkapkan corak romantismenya kepada si dia yang menjadi pujaan hatinya. Konsekuensi logisnya adalah galau yang begitu hebat tak bisa dielakan.

Meskipun Fadly di mata saya sebagai seorang santri yang cerdas, kuat hafalannya, kharismatik dan memancarkan aura taqwa di wajah lesunya, namun dia juga manusia biasa yang bisa galau, gelisah dan gundah gulana oleh cinta, yaa oleh perempuan.

Pernah suatu masa saya melihat dia duduk termenung gelisah di pojokan kamar dengan menggenggam hape di tangan kirinya dan sebotol ale-ale di tangan kanannya. Penasaran dengan hal itu saya memberanikan diri untuk bertanya. “Kamu lagi ngapain ?” tanya saya lirih dengan bahasa SMS.

Fadly diam seratusribu bahasa. Sumpah saat itu saya hanya bisa terkaget melihat dia berlinang air mata, jiwanya terseok gontai tak karuan. Ingin sekali saya memeluknya dari belakang dan memberinya sedikit kecupan di batang lehernya, namun apa daya tak punya birahi untuk melakukan hal itu karena saya bukan homo.

Setelah saya amati, oh ternyata Fadly baru saja diterima cintanya oleh Nurshobah Fitriani, sang gadis putih bersih kenamaan dari tanah anarki Majalengka. Sempat saya berpikir, jika Fadly telah mendapatkan apa yang sudah dicita-citakannya sejak kepindahannya ke pesantren itu, mungkinkah dia akan kembali galau lagi seperti tempo lalu ? oh ternyata benar, dia galau lagi bahkan semakin galau. Sebab keduanya harus menjalani cinta dengan abnormal karena terhalang oleh tembok suci peraturan pesantren.

Begitulah hari-hari Fadly yang hanya dilalui oleh kegalauan yang mengakar dan cenderung berbuat makar, aura taqwa yang terpancar di wajah lesunya ternyata tidak banyak membantu dalam menghilangkan virus galau yang menggila.

Ia galau terus dan terus. Tanpa henti, tanpa berhenti. Galaunya Fadly sangat berbeda jauh dengan galaunya al-Ghazali. Jika Fadly galau karena wanita, sebaliknya al-Ghazali galau karena mencari kebenaran.

Al-Ghazali adalah filosof Islam yang sangat konstan mencari kebenaran dibandingkan mencari wanita bohay ataupun isteri sholehah yang piawai memasak. Sulit dibayangkan oleh akal waras, ia mengalami kegalauan yang sangat hebat hingga melemahkan fisiknya seperti tidak bisa berbicara dan lain-lain.

Anehnya bukan main, sebab tidak ada satu pun dokter kala itu yang bisa menyembuhkan penyakit galaunya, sehingga selama (kurang lebih) dua bulan al-Ghazali merahasiakan dirinya sebagai seorang ultimate skeptic.

Dalam usahanya mencari kebenaran, awalnya al-Ghazali mempelajari ilmu kalam, akan tetapi dalil dari ilmu ini tidak memuaskannya. Kemudian ia mempelajari filsafat, namun ternyata dalam filsafat, al-Ghazali juga tidak menemukan apa yang hendak ia cari, bahkan yang terlihat dalam pandangan al-Ghazali justru logika filsafat bisa membuat seorang muslim menjadi zindik bahkan kafir.

Pencarian kebenaran yang ditempuh oleh al-Ghazali selanjutnya adalah ilmu batiniyah, yaitu secara sederhana ilmu yang menegaskan bahwa kebenaran berasal dari imam yang maksum, imam yang suci bebas dari dosa.

Namun, al-Ghazali tetap saja galau dan tidak puas dengan ilmu itu. Hingga ia pun menemukan jalan tasawuf sebagai oase dari kering korantangnya pencarian kebenaran. Akibat galau yang dideritanya, ia mampu membuat sebuah kitab yang berkaitan dengan filsafat, ilmu kalam, tasawuf, ibadah dan akhlak.

Al-Ghazali sering mensyukuri penyakit galau yang dideritanya sebagai karunia besar dari Allah dalam menemukan arti kebenaran. Al-Ghazali dan Fadly sama-sama galau holic, namun motif kegalauan keduanya sangat bertolak belakang.

Al-Ghazali mempunyai motif mencari kebenaran yang hakiki sementara Fadly mencari kepuasan asmara yang abadi. Cara mengekspresikan kegalauannya pun sangat berbeda. Al-Ghazali mengisi kegalauan dengan membuat karya sehingga galaunya adalah pemantik untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat. Sementara Fadly— seperti remaja alay pada umumnya—hanya bisa menyusahkan dirinya dan orang di sekitarnya. Karena itu, jadilah galau yang produktif bukan galau yang kontra produktif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *