Santri Muhammadiyah Mendapatkan Kenikmatan Spiritual Melalui Shalawat

Sebagai warga Muhammadiyah yang kebetulan tinggal di Indonesia, saya tidak terlalu akrab dengan dunia pershalawatan. Rasa-rasanya, shalawat hanya sekadar ucapan formalitas dalam salat, khutbah jumat, atau kultum. Diucapkan hanya untuk memenuhi aturan baku belaka, tanpa ada kesan mendalam setelahnya.

Ketika mondok di salah satu pesantren di Ciamis, saya mengalami semacam shock culture. Wow, saya baru tahu ternyata bacaan shalawat banyak variannya. Shalawat juga tidak hanya diucapkan dalam upacara-upacara keagamaan formal. Bahkan bisa diiringi dengan musik modern dan diperlakukan seperti sebuah senandung. Ini tentu saja melampaui debat “sayyidina” dalam konten shalawat.

Waktu mondok di Ciamis itu, saya dikenalkan dengan Shalawat Burdah gubahan Imam Al Busyiri. Isi dari syair ini mengungkapkan orang yang sedang dilanda rasa rindu kepada Rasulullah. Disampaikan dengan suasana haru, sedih, dan menyesal. Isi di dalamnya juga banyak mengungkapkan renungan-renungan sufistik kayak menahan hawa nafsu, instrospeksi diri, perilaku asketis, zuhud, berserah diri, dan lain-lain.

Shalawat Burdah termasuk jenis syair yang panjang. Sekalipun dibaca oleh orang dengan kapasitas sastra yang rendah, ia bakal setuju akan keindahan bait-bait al-Burdah. Keindahan susunan bahasanya yang teratur dengan akhiran “mimiyat” ini, memungkinkannya mudah dihafal. Nampaknya, Imam al-Busyiri sukses memadukan kemuliaan ajaran dengan kemasan gaya bahasa yang menawan.

Biasanya setiap malam Ahad para santri mengkaji isi setiap bait al-Burdah sekaligus mendendangkannya bersama seorang Murabbi. Pada saat pengajian perdana, saya langsung tertegun karena baru pertama kali mendengarkan syair yang indah ini diiringi petikan gitar yang dipadukan dengan suara harmonika. Bayangkan: syair indah diselingi instrumen musik yang juga tidak kalah indah. Lagu Imagine dari John Lennon mah lewat!

Bukan cuma itu, Murabbi juga mencantumkan terjemahan Sunda dari Shalawat Burdah ini. Yang menarik dari sini ialah adanya kesamaan irama antara teks asli al-Burdah dengan terjemahan Sundanya. Keduanya berakhiran “mimiyat”. Penerjemahan ini mustahil lahir dari orang dengan kapasistas ilmu balaghah yang masih mentah. Makanya, teks terjemahan al-Burdah ke dalam basa Sunda ini begitu populer di pesantren-pesantren Jawa Barat.

Musikalisasi Shalawat Burdah ditambah terjemahan Sunda ini barangkali punya tujuan khusus: agar para santri dapat menyimak dengan khusyuk sekaligus pesan-pesannya tersampaikan hingga menusuk hati!

Hingga saat ini, ada semacam kenikmatan spiritual tiap kali membaca dan mendengarkan musikalisasi Shalawat Burdah ini. Apalagi jika diperkaya dengan panorama pesantren dengan santri yang duduk rapi bersama-sama mendendangkan shalawat ini, barangkali akan semakin sedap untuk batin yang sedang gersang.

Terakhir, Selamat Hari Santri 2022.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *