PASUTRI LELE – Episode 10

Hubungan keluarga kami kembali harmonis setelah Tupperware kesayangan Starla ditemukan. Kini aku seolah memiliki kuasa penuh atas Starla sebab kehilangan Tupperware beberapa waktu yang lalu murni kesalahan dirinya.

“Aku minta maaf ya udah ngusir-ngusir kamu…” Starla memohon dengan melas.

“Makanya gunakan akal sehat dulu sebelum menghakimi…”

“Iyaa, semuanya salahku, aku lupa kalo ternyata tupperwarenya ada di koper…”

“Nah itu, kok kamu taro itu di koper ?”

“Karena aku gak mau kehilangan Tupperware saat lagi sayang-sayangnya…”

“Allahu Akbar!”

***

Usia kandungan Starla telah menginjak enam bulan. Aku semakin cemas. Selain kesehatan Starla, aku juga memikirkan biaya persalinan yang nantinya akan sedikit menguras dompet. Kabar duka selanjutnya adalah konsumen ikan lele semakin sedikit.

“Pak, banyak konsumen yang ngeluh dengan produksi ikan lele kita…”

“Ngeluh kenapa, mang Engkus ?”

“Katanya, banyak yang mati penasaran..”

“Konsumen kita ?”

“Bukan, lelenya…”

“Boa edan! Ya sudahlah, kita bekerja saja seperti biasanya. Perkara konsumen suka atau tidak dengan ikan lele kita, itu persoalan mereka. Yang penting kita sudah berusaha. Tenang saja rezeki sudah diatur…”

“Diatur siapa, pak ?”

“Pak Jokowi!”

“Oh…”

“Gusti Allah atuh, mang! Hadeuuuh! Kemon ah kerja lagi…”

Dalam beberapa minggu terakhir grafik penjualan ikan lele terus menurun. Dari yang tadinya mampu menjual beberapa puluh kilo per minggu, kini hanya sampai hitungan jari. Ada yang aneh dan harus dibenahi. Selebihnya aku tidak paham bagaimana skenario kapitalisme global ini bekerja, yang jelas solusinya bukan khilafah.

***

Aku pulang ke rumah setelah seharian bekerja dan berpikir. Tentang lele, biaya persalinan dan kesehatan kandungan Starla. Pikiran semakin kalut kala tahu Starla hanya bisa memasak telur goreng. Tapi aku selalu berpikir positif, semoga lelah ini menjadi semur jengkol. Aamiin.

“Haaiiii!!! Hari ini aku masak sesuatu yang saaaangaat spesial buat suamiku…”Starla membukakan pintu untukku dengan sambutan yang tidak seperti biasanya. Mungkin dirinya masih merasa bersalah atas kejadian Tupperware kemarin. Namun aku tak tahu secara pasti detailnya.

“Wah masak apa nih ?”

Suasana saat itu semakin romantik kala Starla menyuruhku duduk kemudian dia menutup mataku dengan kain. Akhirnya aku hanya dapat melihat gelap, tanpa ada sedikit pun goresan cahaya. Namun indera penciuman jelas menjadi lebih tajam.

“Sebentar yah, kamu tunggu di meja makan. Jangan kemana-mana. Karena masakan special ala Chef Starla akan segera tiba… Yuhuuuu..”

Aku sebenarnya tak mengharapkan apa pun dari surprise kecil-kecilan yang dibuat Starla petang ini. Tapi karena bau rempahnya sedaaap sekali dari ujung dapur sana, aku mengira-ngira bau seperti ini bukanlah telur goreng sembarangan, tapi sesuatu yang lezat.

Dalam memasak, Starla telah mengalami perubahan yang cukup pesat.

Dua menit kemudian Starla kembali, “Taraaaa… Nih, aku masak apa coba ?”

Dia membuka penutup mataku secara perlahan. Mataku akhirnya terbuka dengan pandangan yang masih buram. Setelah kugosok dengan jari beberapa kali, akhirnya penglihatanku kembali jelas.

Subhanallah, Starla masak semangkuk indomie goreng!

Sialan.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *