PASUTRI LELE – Episode 12

Aku hanya dapat menganga menyaksikan semua ikan leleku mati penasaran. Mereka mengambang tak berdaya. Mereka tidak bergerak. Hal tersebut diperparah dengan beberapa kolam terpal ikut bocor. Habis sudah pengalamanku beternak lele. Haruskah aku menyerah dan pensiun di usia dini ?

Walaupun lele yang mati masih dapat digunakan dan dimakan, namun beberapa konsumen tidak menginginkannya dalam keadaan tak bernyawa. Sesuai perjanjian, mereka memutus tali kontrak yang sudah terjalin selama empat tahun. Akhirnya lele yang mati dikumpulkan, dibagikan kepada masyarakat setempat. Mereka senang, aku pura-pura girang.

Semua pegawai tampak resah, dua hari lagi kesepuluh orang dari mereka harus terima gaji, tapi aku tak punya uang sedikitpun. Kecuali uang tabungan untuk biaya persalinan dan segala kebutuhan menyambut anak pertamaku.

“Pokoknya tenang saja, gaji kalian akan tetap saya bayarkan pada waktunya…” Aku berusaha sebijak mungkin menerima permasalahan ini di depan para pegawai yang mulai was-was akan haknya.

Mang Engkus yang berada di sampingku berbisik, “Maap, pak, beberapa dari mereka mau udahan ?”

“Udahan gimana maksudnya, mang Engkus ?”

“Mereka mau mem-PHK diri sendiri…”

“Keluar maksudnya ?”

“Iyaaa, sudah tak sanggup lagi…”

“Iya gak masalah, itu sudah jadi hak mereka, mang Engkus juga mau ?”

“Tidak, saya mah setia sama bapak, cuman pengen naik gaji!”

“Euhhh sia mah!”

Aku tidak ingin menampakan kebingungan di depan Starla yang juga ikut pusing memikirkan keadaan ini. Usia kandungan yang sudah membengkak, hanya tinggal menunggu bel berbunyi menyambut hari anak pertamaku lahir ke dunia ini.

Aku pulang dengan menundukan kepala sebagai panglima perang yang kalah dalam pertempuran. Kulihat senja tampak bermuram durja, tak seperti biasanya. Aku sama sekali tak memikirkan penyebab lele-lele tersebut mati, titik fokusku hanya ada pada Starla.

Rupanya dia sedang memikirkan bagaimana nasib para pegawai yang nanti dalam dua hari kedepan akan menuntut haknya. Dalam keadaanku yang seperti ini, aku yakin sekaliber Mario Teguh pun butuh motivasi.

Satu hal yang luar biasa dari Starla adalah di saat-saat genting, dia tidak lagi menunjukan sikapnya sebagai seorang ibu hamil yang haus akan manja. Dalam beberapa hal dirinya bahkan memotivasiku, kadang juga menghiburku.

“Anak kita ‘kan cowo, kira-kira namanya apa ya ?” Aku membuka percakapan malam itu.

“Papah maunya yang gimana ?”

“yang, emm, agak korea-korea gitu..”

“Gak beriman amat sih, pah…”

“Terus kamu maunya yang gimana ?”

“Yang ke-arab-araban, dong. Beriman gitu lho..”

“Gimana kalo… Mario Balotelli ?”

“Ih siapa itu ?”

Starla tidak tahu kalau ternyata Mario Balotelli adalah pemain bola professional berkebangsaan Italia. “Mario Balotelli itu penyanyi hebat..”

“Penyanyi apa ?”

“Penyanyi dangdut..”

“Ih, jangan ah jangaaan! Yang lain…”

“Emmm. Gimana kalo Soekarno ?”

“Ih apaan gak bagus, entar poligami, pah! Yang lain!”

“Soeharto ?”

“Entar kamu diculik, pah!”

“Jokowi ?”

“Entar kamu diPHPin, pah!”

Aku mulai kesal dengan sikap Starla yang oportunis dalam persoalan nama, “Yaudah terserah kamu maunya apa dan gimana. Aku gak mau keliatan sok ngatur…”

“Iya ih kamu mah suka sok-sokan ngatur dalam segala bidang, pah, emangnya dalam rumah tangga ini, anda itu siapa ? hah ??”

“Saya ?”

“Iya kamu!”

“Saya Indonesia. Saya Pancasila.” Jawabku mantap!

“Hahahaaa…”

“Pura-pura ketawa padahal gak lucu..”

“Gak lucu aja bikin aku ketawa gimana kalo lucu..”

“Kalo lucu yang ketawa pasti fans, kalo gak lucu yang ketawa pasti hater.”

“Gitu ya, jadi aku hater dong yeaay!”

“Hahaha asyem..”

Serumit apapun masalah, aku tak pernah kehilangan nalar, sebab Tuhan telah menjodohkanku dengan perempuan unik yang tidak hanya mengandung banyak makna, tapi juga mengundang banyak tawa.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *