Stereotip Juru Parkir Nyebelin tapi Bermakna Filosofis

Saya kira semakin modern atau majunya suatu masyarakat akan semakin individualistis dalam bersikap, termasuk dalam hubungan bersosial dan saling bahu-membahu. Selayaknya saya yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di gadget ataupun bekerja ala kadarnya melalui laptop semboyan selalu kembali pada hirup aing kumaha aing.

Memang sebagai insan sosial saya selalu ada waktu senggang hanya untuk menyeruput kopi di kedai mendengarkan bualan teman-teman yang pamer penderitaan atau cerita-cerita tidak jujur. Kadang saya berpikir cerita kebohongan macam itu tuh kok bisa dikeluarkan dari mulutnya, saya yakin teman saya yang lain tau bahwa cerita itu bohong, dia yang tidak jujur tapi saya yang merasa malu.

Hal tersebut yang membuat saya enggan memaksakan badan hanya untuk mendengar bualan sampah yang sebenarnya bisa diluapkan melalui jejaring WhatsApp. Walaupun pada dasarnya saya pemalas namun lebih baik memaksakan badan menuju minimarket untuk berbelanja cemilan, kopi dan rokok lalu menghabiskan itu semua di depan laptop seorang diri, dari pada mendengar obrolan yang ngakak juga engga, manfaat juga engga tapi menyebalkan masuk dalam kategori tersebut.

Tapi namanya juga kehidupan, annoying behavior selalu mengahantui manusia, saya kira hal itu hanya terjadi di kedai, namun hal itu juga tejadi di mini market. Saya yakin seperti halnya saya percaya pada agama saya, ketika saya masuk mini market saya tidak melihat juru parkir di depan minimarket bahkan kuku jempol kakinya saja saya tidak lihat.

Usai saya berbelanja, dengan pelan saya menyentuh pull handle alumunium minimarket lalu melihat sekeliling parkiran, mata saya hanya menangkap empat buah motor, tidak terlihat ada juru parkir disana. Segera saya menghampiri motor dan telapak sandal saya mengibaskan standar motor, belum satu detik peluit itu berbunyi “PRIIIIIIT!” dilanjut dengan kata “teruuusss A” dada saya seperti di ulti, kaget dan trauma.

Hati kecil saya menolak untuk membayar biaya parkir tapi jok besi pegangan belakang motor saya sudah ditariknya, apa mau dikata, saya merogoh saku celana saya dan mencari uang dua ribuan. Sepanjang perjalanan ke kosan saya menggerutu tak karuan.

Kok bisa ya juru parkir itu muncul seperti kenangan, selalu menyeruak muncul tak karuan dimana saja ia mau. Saya lihat dengan jelas depan mini market hanya ada empat buah motor tidak ada apapun selain itu. Sepertinya survei nasional harus menetapkan topik ini.   

Tapi ya setelah saya merenung terkait juru parkir ini, menurut saya oke-oke aja sih ngasih dua ribu untuk menjaga motor saya supaya aman. Meskipun profesi juru parkir tidak selaras dengan nilai budaya modern, tapi seorang juru parkir mempunyai semangat untuk bekerja. Seperti yang kamu tau jaman semakin modern parkir sekarang sudah pake mesin.

Tentu tugas juru parkir bukan hanya menunggu si punya motor keluar dari minimarket lalu menagih tarif parkir, tapi tugas juru parkir juga terhitung berat  ia merapikan motor, menjaga helm, memberikan senyuman, menjaga amanah motor yang dititipkan dan mengurangi angka kecelakaan, seperti halnya jika posisi mini market itu ada dijalan besar.

Saya banyak menghabiskan waktu bengong saya terkait juru parkir ini, pikiran saya menyimpulkan bahwa seorang juru parker selaras dengan filsuf Thales dari Miletos. Thales dia terkenal dari pemikirannya untuk mencari “arkhe” atau prinsip, selaras dengan juru parkir ia mempunyai suatu prinsip yang mendasari berbagai kendaraan untuk ia jaga yaitu “amanah” atau kepercayaan.

Hal lain juga mengapa juru parkir dan Thales selaras adalah karena ia berpendapat bahwa panas dapat mengembalikan logam ke keadaan cair. Artinya benda padat dapat dicairkan, begitupun BPKB motor dan mobil yang ia jaga agar bisa dicairkan kelak ketika si pemilik motor/mobil terhimpit ekonomi. Memang BPKB tidak selalu dibawa saat berbelanja ke minimarket, namun jika kendaraan itu hilang  karna tidak dijaga oleh juru parkir, apakah bisa BPKB itu dicairkan?

Adapun aspek filosofis lainnya, juru parkir setiap harinya selalu dipercayai menjaga kendaraan dari motor yang paling murah ke yang paling mahal, begitupun kendaraaan lainnnya seperti mobil.  Dalam beberapa menit juru parkir ini akan kehilangan beberapa motor dan mobilnya, dibeberapa jam berikutnya akan kehilangan mobil dan motornya kembali, sampai akhirnya tidak tersisa satu kendaraanpun ditempatnya.

Seperti halnya konsep islam “Zero to Zero” yang diakui oleh yahudi, dari fitrah harus fitrah kembali seperti halnya ketika Idul Fitri kita kembali ke jati diri yang paling orisinal dan genuine dari nol ke nol.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *