Sexual Harassment: Kebal Dirajam

“udah, gak usah lagi ke psikolog, gak usah lagi kamu cerita tentang ini ke siapapun, AIB!”

“kamu itu cuma kurang ibadah”

“ah! itu cuma halusinasimu aja!”

“kapan mau sembuh kalau kamu terus bergantung sama psikolog dan psikiatermu?”

Dan masih buanyaaakk lagi macam susunan diksi yang membentuk kalimat negatif yang terus kudengar dari setiap mulut yang tidak mendukungku.

HALLO! Panggil saja aku Ghya. Aku adalah seorang penyintas pelecehan seksual yang pelakunya adalah pamanku sendiri. Eh? Bisa dibilang penyintas belum yaa? Wkk. Masih berjuang untuk sembuh siiih, haha.

Terkadang sedih, sakit, dan bahkan iri sama korban-korban pelecehan yang berhasil speak up. “Aku kapan?” “mereka beruntung ya, banyak support” “aku payah sekali ndak bisa melawan!” “aku kotor!” “apa aku pantas dapat laki-laki yang baik?” “apa masih ada yang mau menerima aku?” semua pikiran negatif terus berkejaran dalam pikiranku.

Sedikit kujelaskan yaa! Aku mengalaminya sejak SD, seingatku sekitar kelas 2. Dulu, sex education masih amat sangat tabu, yaa walaupun sekarang juga masih ada yang menganggapnya begitu. Itu sebabnya aku tidak menghiraukan perilaku pelaku. Aku mulai merasa tidak nyaman ketika akhir SD, hingga akhir kuliah aku tidak sanggup lagi menahan semua ini.

Tidak hanya sentuhan fisik, verbal berupa ancaman, bahkan visual dengan menunjukkan alat kelaminnya yang menjijikkan itu, juga dilakukan berulang oleh bajingan itu! BELASAN TAHUN.

Reaksi tubuhku? Membeku, iya beku.

Puncak ledakan pertamanya, terjadi pada awal pandemi. Aku yang sebelumnya punya banyak distraksi dengan berkegiatan diluar rumah, saat itu harus terperangkap dalam penjara yang begitu kejam siksanya.

Satu waktu, dini hari, bajingan itu membanjiri notifikasiku dengan terror chat dan videocall. Aku? Sudah seperti orang gila dibuatnya, berteriak tapi tercekat, menangis histeris dibalik bantal, berakhir pada menyakiti diri sendiri dengan memukul, menjambak, memaki, bahasa kerennya sih ­self-harming dan self-blaming. Wkwk. Sekarang mah udah bisa ketiwi-tiwi. Walaupun beberapa part membuatku sesak saat mengingatnya.

Balik lagi yak! Entah sudah berapa kali hampir melayang sia-sia nyawa ini. Akhirnya kuputuskan untuk minta bantuan pada psikolog, dari online hingga offline kulakui. Bukan sembuh yang kudapati, hanya tenang sementara, tapi malah semakin parah setelahnya.

Pada puncak yang kedua, dini hari yang kedua pula, tanpa trigger, aku terbangun dan mendengar suara berbisik jelas ditelingaku “ambil pisau! mati! mati! matii!”. Bersyukurnya aku berhasil mengabaikan suara itu, walaupun harus kesakitan merasakan gejala psikosomatis yang muncul setelahnya. Dari pusing hebat, sesak nafas, nyeri di dada, perut, mual, jantung berdebar, semuanya sudah menjadi teman akrabku.

Esoknya kuputuskan bertemu psikologku, dan akhirnya aku dirujuk ke psikiater, YAA! PSIKIATER, bahasa seramnya dokter jiwa, wkk. Dengan diagnosa depressive episode. Iya, ini sudah didiagnosa dokter dan psikolog, bukan self-diagnose. hahaa. Berhari-hari kulalui hidup dengan bergantung pada butiran pil yang diresepkan oleh dokter spesialis jiwa itu. Tenang, nyaman.

Tapi aku berfikir, tidak bisa aku terus-terusan begini. Mau sampai kapan aku begini?

Akhirnya kuputuskan (eh banyak sekali yaa aku memutuskan? hahahaa) untuk lapor ke PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak). KENAPA? Karena aku tidak dapat dukungan dari keluargaku, papaku sekalipun. Justru, kalau kamu ingat kalimat pembuka yang ku kutip “udah, gak usah lagi ke psikolog, gak usah lagi kamu cerita tentang ini ke siapapun, AIB!” itu adalah ucapan papaku.

Akhirnya aku harus berjalan sendiri, aku sudah menuruti semua mau keluargaku. Tapi tidak kudapati bantuan. Ternyata aku menemukan kesembuhan disini, di PPA, aku mendapat terapi yang kalau diluar aku harus merogoh kocek 300-500K untuk satu kali pertemuan. Ini kudapatkan gratis dan sudah kulalui 5 kali pertemuan. AKU SUDAH LEPAS OBAT! AKU TINGGAL MENYELESAIKAN TUGAS LANJUTANKU UNTUK SEMBUH.

MEMANG BENAR, MANUSIA ADALAH MAKHLUK SOSIAL, YANG TIDAK MUNGKIN BISA HIDUP SENDIRI, BUKTINYA AKU HARUS DIBANTU PROFESIONAL (PSIKOLOG, PSIKIATER, TERAPIS, DAN TEMAN-TEMAN YANG MENDUKUNGKU), TAPI TIDAK BISA SELALU BEGITU, KARENA KETIKA MEREKA YANG KAMU GANTUNGI HARAPAN TIDAK MENDUKUNGMU, KAMU AKAN SEMAKIN HANCUR LEBUR DIBUATNYA!!!

BUAT KALIAN, SEMUA YANG SEDANG DALAM FASE TER-RENDAH DALAM HIDUPNYA, JANGAN LUPA PERCAYA BAHWA KITA SUDAH DIATUR MAMPU UNTUK MELALUI JALAN HIDUP YANG SUDAH DIGARISKAN. JANGAN KALIAN BUNUH DIRI KALIAN HANYA KARNA KALIAN MERASA TIDAK MAMPU, YANG HARUS DIBUNUH ADALAH PIKIRAN NEGATIF YANG SELALU BERENANG DIKEPALA KALIAN. TENGGELAMKAN!

KESALAHANKU YANG DARI AWAL ADALAH, karena aku hanya berfokus pada orang-orang yang tidak mendukung kemauanku, sedangkan diluar sana lebih banyak orang-orang yang Tuhan kirimkan untuk menjadi support dan alasan untukku hidup. SEMANGAT HIDUP!

MASIH BANYAK COBAAN YANG HARUS DICOBAIN.

Semoga tulisan ini sedikit membantu kalian yang sedang mengalami sex harassment untuk berani, bangkit, dan menyelamatkan diri, JANGAN MENYERAH! KALIAN BERHARGA!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *