PASUTRI LELE – Episode 16

Sepulangnya dari rumah sakit, aku membuat kesepakatan dengan para pegawai bahwa gaji mereka akan segera ditunaikan dalam kurun waktu dua minggu kedepan. Awalnya mereka sedikit risau, namun melihat keadaan keluargaku akhirnya mereka menyutujuinya.

“Mohon maap sekali ya, bapak-bapak..”

“Gapapa, pak. Santaikeun…”, kemudian dia berbisik kepadaku, “yang penting dua minggu lagi cair.”

“Insya Allah dipenuhi, pak…”

“Yuu mariii…” Mereka berpamit pulang.

Jangan sampai Starla mendengar kabar kurang baik ini. Selama ia beradaptasi menjadi seorang mamah muda yang energik, dirinya harus tetap dalam kondisi kedap gossip. Baik gossip rumah tangga, maupun gossip selebritis tanah air.

Dalam keadaan gamang aku melihat darah dagingku sendiri yang tergeletak bersama ibunya. Segala pening yang berputar-putar di kepala hilang begitu saja ketika kutatap bulu alisnya yang rimbun. Kutatap manusia mungil itu, kemudian kucium dia berkali-kali di bawah langit yang tak berbatas. Bagaimana mungkin bisa aku tidak mencintai matanya yang indah dan tenang itu.

Matanya mirip ibunya. Alisnya mirip ayahnya. Kombinasi yang sempurna.

Tak menunggu lama tetangga berduyun datang ke rumahku. Berniat menengok manusia yang baru bernafas di bumi. Beruntung manusia mungil itu disambut oleh senyuman yang menganga dari orang-orang yang ingin berjumpa dengannya. Namun sayangnya dia hanya mampu membalas mereka dengan isak tangis nan nyaring. Ah, dasar bocah…

“Boleh bawa pulang gak bayinyaaa ?” Tanya seorang tetangga merayu Starla.

“Boleh, asal tuker sama sawah..” Kataku santai.

“Huss ngawur kamu, jenderal…” Starla menghardikku.

“Tukeran yuuu…” Salah seorang perawan tua akhirnya buka suara.

“Dituker sama apa, Nisa ?”

“Sama shampoo pantine..”

“Dikira anakku ketombe apa..” jawab Starla sinis.

“Kalo dituker sama kulkas dua pintu mau gak ?”

“Uuuhh.. mau dong!”

“Oke, deal!” Kataku nyerobot.

“Deal juga!” Starla mulai marah.

“Seriusan ?” Nisa terheran dengan kekompakan kami.

“Gampang urusan bayi mah, tinggal bikin lagi..” aku mengakhiri obrolan tak berguna ini.

Setelah para tetangga keluar dari rumah secara tertib, Starla mulai menampakan raut wajah yang sesungguhnya.

“Ih apaan sih becandanya gak lucu..”

“Hehe maapkan…” Aku senyam-senyum.

“Gak boleh gitu lagi, anak kita bukan rongsok, gak boleh dituker-tuker!”

“Hehe iyaa maap…”

“Iyaa dimaapin, gak usahlah senyum-senyum gituuuu..”

“Lha kenapa kok gak boleh senyum ?”

“Itu di gigimu ada cabenya…”

“Hahaha” aku malu dan tertawa, “cabutin dong!”

“Ih jijik…”

“Ini mah bukan cabe tapi bayam..” Kucabut tempelan hijau itu dan kulihat sejenak setelah itu kumakan lagi. Lumayan nambah gizi.

“Ih jijik!!!!”

“Gapapa menyehatkan.”

Dijewerlah aku sama dia sampai-sampai membangunkan manusia mungil yang terlelap di antara kita. Obrolanku dengan Starla mengganggu tidur siang sang putra mahkota pewaris tunggal perusahaan ikan lele. Ah tapi ternyata dia hanya menguap. Dasar bocah.

Kemudian telunjuk tangan kanan Starla menutup mulut manusia mungil itu dengan lembut, sementara tangan kirinya memberi isyarat tempelan telunjuk di bibir agar aku diam tak bersuara. Aku menyaksikan kedamaian yang tiada bandingan. Tak butuh lama, si anak Lele kembali terlelap dengan elegan.

Ah, dasar bocah.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *